Friday, October 29, 2010

Renungan Jumaat - Cara Menghidupkan Hati Yang Mati


Sebahagian Daripada Tanda Matinya Hati Ialah Apabila Tidak Berasa Sedih Jika Terlepas Sesuatu Amal Kebaikan Daripadanya Dan Tidak Menyesal Jika Terjadi Perbuatan Yang Tidak Baik Olehnya.

"KATAKAN kepada kami bagaimana cara taqarrub atau mendekati Allah Swt, Tuan," pinta seorang murid sebelum Abu Qubaisy sempat menyampaikan kata pengantar pembuka majlis taklimnya pagi itu.

"Mengabdilah kepada Allah Swt dengan penuh kesedaran bahawa Dia menciptakan jin dan manusia hanya untuk mengabdi. Dan hadapkanlah wajah hanya kepada-Nya saja. Jangan ada tempat menghadap yang lain selain Dia," jawab sang mahaguru yang luas ilmu dan pengetahuannya tersebut.

"Bersediakah Tuan jelaskan itu dengan bahasa yang lebih mudah difahami?" tanya dan sekali gus pinta murid lain yang tampak kecewa.

"Barangkali ada baiknya kukutipkan untuk kalian apa yang pernah diucapkan sufi dan ulama besar Syekh Abd al-Qadir Jailani. Kata beliau, 'Pada pandanganku dunia ini ibarat fatamorgana, datang dan pergi, bersifat sementara, menipu, dan palsu. Kerana itu aku tidak pernah percaya kepadanya, dan sama sekali tidak terpikat olehnya. Kerana dia datang dan pergi begitu saja. Akan halnya akhirat, di situ aku hanya sebentar saja. Bila aku telaah dan perhatikan keadaannya, kutemukan ada juga kekurangannya. Ia diciptakan untuk makhluk yang ciri-cirinya mirip dunia ini. Di dalamnya aku melihat Allah telah menyediakan tempat untuk memuaskan segala keinginan dalam diri, yakni nafsu dan segala yang menyenangkan mata belaka. Kemudian aku bertanya kepada diriku sendiri, "Apa yang diinginkan hati ini?" Aku pun memalingkan wajah ku kepada "Tuan" yang memiliki semua makhluk, yakni Mawla. Pentadbir, yakni Bari'. Pencipta, yakni Khalik. Dan Pencipta, yakni Muhdits. Apakah ada yang lain selain "Tuan" ini?"

Menurutku, dari ucapan yang pernah dikatakan Abd al-Qadir Jailani itu, bilamana orang dengan sepenuh kesedaran mengabdikan diri hanya kepada Allah, dengan keyakinan karena tak ada tempat lain untuk mengabdi, maka Dia dengan sifat-Nya yang Pemurah akan memberikan ganjaran utama. Iaitu akan menggantikan kejahilan atau kedunguan, dengan ilmu. Menggantikan rasa jauh menjadi rasa dekat. Menggantikan kegelapan dengan cahaya yang benderang, dan seterusnya," jelas Abu Qubaisy dengan panjang lebar


0 ulasan:

Post a Comment