Salam Aidil Fitri Maaf Zahir Batin

Salam Aidil Fitri Maaf Zahir Batin

Friday, August 13, 2010

Renungan Jumaat - Kewajipan Berpuasa dan Hikmahnya

(Puasa yang diwajibkan itu ialah) beberapa hari yang tertentu; maka sesiapa di antara kamu yang sakit atau dalam musafir, (bolehlah dia berbuka), kemudian wajiblah dia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain; dan wajib atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tua dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin. Maka sesiapa yang dengan sukarela memberikan (bayaran fidyah) lebih dari yang ditentukan itu, maka itu adalah suatu kebaikan baginya dan (walaupun demikian) berpuasa itu lebih baik bagi kamu (daripada memberi fidyah), kalau kamu mengetahui.
Surah Al-Baqarah ; Ayat 184


Hikmah ke atas kewajipan berpuasa:

1. Sebagai tanda ketakwaan hamba terhadap  khaliknya. Maksud Firman Allah ;
““Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa ,” (QS.al-Baqarah: 183).

2. Puasa sebagai penawar penyakit jasmani dan rohani ;
 Dalam sebuah hadis sahih Rassullah bersabda yang mafhumnya ,

““Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu untuk menikah, hendaklah ia menikah. Sebab nikah dapat mengendalikan pandangan mata dan dapat menjaga kesucian farji. Orang yang tidak mampu, hendaknya ia berpuasa, sebab puasa baginya menjadi penawar.”

3. Puasa mempersempit aliran makanan dan darah yang  merupakan aliran setan, sehingga dengan demikian bisikannya menjadi sedikit.

4. Puasa melemahkan syahwat, hasrat jahat dan keinginan maksiat sehingga roh menjadi tak ternoda.

5. Puasa mengingatkan orang yang berpuasa bahwa di antara saudara-saudaranya yang berpuasa ada yang kelaparan, yang membutuhkan, yang fakir, yang miskin. Sehingga ia berkenan mengasihi, menyayangi, dan menolong mereka. 

6. Puasa adalah media pendidikan jiwa, penyucian hati, pengendalian pandangan, dan menjaga anggota tubuh dari dosa.

7. Puasa adalah rahasia antara hamba dengan Tuhannya. Dalam sebuah hadits Qudsi shahih dijelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

““Setiap amal putera Adam untuk dirinya, kecuali puasa, ia adalah untukku dan Aku sendiri yang akan membalasnya .”

Sebab tak ada yang mengetahui puasa seseorang kecuali Allah subhanahu wa ta’ala, berbeda dengan shalat, dan haji.

8. Para salaf, berdasarkan riwayat yang shahih, duduk di masjid dengan al-Qur’an, mereka membaca dan menangis, menjaga lidah dan mata dari hal-hal haram.

9. Puasa  adalah alat pemersatu kaum Muslimin, mereka berpuasa pada waktu yang bersamaan dan buka pada saat yang sama pula, merasakan lapar bersama, makan bersama, dengan rukun dan penuh persaudaraan, dengan cinta dan kesetiakawanan.

10. Puasa  adalah penghapus kesalahan dan penyirna kejahatan. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah bersabda:

“Dari satu Jum’at ke jum’at, dari satu Umroh ke umroh yang lain, dari satu Ramadhan ke ramadhan yang lain adalah kafarat (penghapusan dosa-dosa) selama bukan termasuk dosa besar.”

11. Puasa sungguh sehat untuk tubuh, sebab ia mengosongkan perut dan semua materi yang destruktif, mengistirahatkan pencernaan, membersihkan darah, menormalkan kerja hati, roh menjadi cerah, jiwa menjadi bersih, dan akhlak menjadi terbina karenanya.

12. Bila seseorang berpuasa, maka dirinya terasa kerdil di hadapan Allah, hatinya mudah trenyuh, rasa rakusnya menipis, syahwatnya sirna, sehingga dengan demikian doanya dikabulkan karena dekatannya dengan Allah subhanahu wa ta’ala.

13. Dalam puasa terdapat rahasia agung, yakni ketaatan menyembah Allah subhanahu wa ta’ala, patuh atas segala perintahNya, tunduk kepada syariatNya, meninggalkan hasrat makan, minum dan bersetubuh untuk mencari keridhaan-Nya.

14. Puasa merupakan kemenangan seorang Muslim mengalahkan hawa nafsunya, kemenangan seorang Muslim atas dirinya, ia setengah dari sabar. Maka orang yang tidak berpuasa tanpa uzur ia tidak akan pernah mampu mengendalikan dirinya, dan tak akan dapat mengalahkan hawa nafsunya.

15. Puasa adalah eksperimen luar biasa bagi jiwa agar ia berada pada kondisi siap sedia 100% untuk menanggung beban dan menghadapi persoalan, siap menunaikan pekerjaan-pekerjaan penting dan agung seperti jihad fi sabilillah, menginfakkan harta benda di jalan Allah dan berkorban.

0 ulasan:

Post a Comment