Friday, August 26, 2011

Renungan Jumaat - Taubatnya Malik bin Dinar


Kehidupanku bermula dengan sia-sia, mabuk, maksiat, berbuat zalim kepada manusia, memakan hak manusia, memakan riba, dan memukul manusia. Kulakukan segala kezaliman, tidak ada satu maksiat melainkan aku telah melakukannya. Sungguh sangat jahat hingga manusia tidak menghargaiku kerana kejahatanku.

Malik bin Dinar menuturkan: Pada suatu hari, aku merindukan pernikahan dan memiliki anak. Maka kemudian aku menikah dan dikurniakan seorang puteri yang kuberi nama Fatimah.

Aku sangat mencintai Fatimah. Setiap kali dia bertambah besar, bertambah pula keimanan di dalam hatiku dan semakin sedikit maksiat di dalam hatiku.

Pernah suatu ketika Fatimah melihatku memegang segelas khamar (arak), maka diapun mendekat kepadaku dan menyingkirkan gelas tersebut hingga tumpah mengenai bajuku. Saat itu umurnya belum genap dua tahun. Seakan-akan Allah SWT yang membuatnya melakukan hal tersebut.

Setiap kali dia bertambah besar, semakin bertambah pula keimanan di dalam hatiku. Setiap kali aku mendekatkan diri kepada Allah SWT selangkah, maka setiap kali itu pula aku menjauhi maksiat sedikit demi sedikit. Hingga usia Fatimah genap tiga tahun, saat itulah Fatimah meninggal dunia.

Maka akupun berubah menjadi orang yang lebih buruk dari sebelumnya. Aku belum memiliki sikap sabar yang ada pada diri seorang mukmin yang dapat menguatkanku di atas dugaan musibah. Kembalilah aku menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Syaitan pun mempermainkanku, hingga datang suatu hari, syaitan berkata kepadaku: “Sungguh hari ini engkau akan mabuk dengan mabuk yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Maka aku bertekad untuk mabuk dan minum khamar sepanjang malam. Aku minum, minum dan minum. Maka aku lihat diriku telah terlempar di alam mimpi.

Di alam mimpi tersebut aku melihat hari kiamat. Matahari telah gelap, lautan telah berubah menjadi api, dan bumipun telah bergoncang. Manusia berkumpul pada hari kiamat. Manusia dalam keadaan berkelompok-kelompok. Sementara aku berada di antara manusia, mendengar seorang penyeru memanggil: Fulan ibn Fulan, kemari! Mari menghadap al-Jabbar. Aku melihat si Fulan tersebut berubah wajahnya menjadi sangat hitam karena sangat ketakutan. Sampai aku mendengar seorang penyeru menyeru namaku: “Mari menghadap al-Jabbar!”

Kemudian hilanglah seluruh manusia dari sekitarku seakan-akan tidak ada seorangpun di padang Mahsyar. Kemudian aku melihat seekor ular besar yang ganas lagi kuat merayap mengejar kearahku dengan membuka mulutnya. Aku pun lari kerana sangat ketakutan. Lalu aku mendapati seorang lelaki tua yang lemah. Akupun berkata: "Selamatkanlah aku dari ular ini!” Dia menjawab: “Wahai anakku, aku lemah, aku tak mampu, akan tetapi larilah kearah ini. Mudah-mudahan engkau selamat!”

Akupun berlari ke arah yang ditunjukkannya, sementara ular tersebut berada di belakangku. Tiba-tiba aku mendapati api ada dihadapanku. Akupun berkata: “Apakah aku melarikan diri dari seekor ular untuk menjatuhkan diri ke dalam api?” Akupun kembali berlari dengan cepat sementara ular tersebut semakin dekat. Aku kembali kepada lelaki tua yang lemah tersebut dan berkata: “Demi Allah, wajib atasmu menolong dan menyelamatkanku.” Maka dia menangis kerana hiba dengan keadaanku lalu berkata: “Aku lemah sebagaimana engkau lihat, aku tidak mampu melakukan sesuatupun, akan tetapi larilah ke arah gunung tersebut mudah-mudahan engkau selamat!”

Akupun berlari menuju gunung tersebut sementara ular akan mematukku. Kemudian aku melihat di atas gunung tersebut terdapat anak-anak kecil, dan aku mendengar semua anak tersebut berteriak: “Wahai Fatimah tolonglah ayahmu, tolonglah ayahmu!”

Selanjutnya aku mengetahui bahwa dia adalah puteriku. Akupun berbahagia bahawa aku mempunyai seorang puteri yang meninggal pada usia tiga tahun yang akan menyelamatkanku dari situasi tersebut. Maka dia pun memegangku dengan tangan kanannya, dan mengusir ular dengan tangan kirinya sementara aku seperti mayat kerana sangat takut. Lalu dia duduk di pangkuanku sebagaimana dulu di dunia.

Dia berkata kepadaku:
“Wahai ayah, “belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (Qs. Al-Hadid:16)

Maka kukatakan: “Wahai puteriku, beritahukanlah kepadaku tentang ular itu.”
Dia berkata: “Itu adalah amal keburukanmu, engkau telah membesarkan dan menumbuhkannya hingga hampir memakanmu. Tidakkah engkau tahu wahai ayah, bahwa amal-amal di dunia akan dirupakan menjadi sesosok bentuk pada hari kiamat? Dan lelaki yang lemah tersebut adalah amal kebajikanmu, engkau telah melemahkannya hingga dia menangis kerana keadaanmu dan tidak mampu melakukan sesuatu pun untuk membantumu. Seandainya saja engkau tidak melahirkanku, dan seandainya saja tidak mati saat masih kecil, maka tidak akan ada yang memberikan manfaat kepadamu.”

Malik Bin Dinar berkata: Akupun terbangun dari tidurku dan berteriak: “Wahai Rabbku, sudah saatnya wahai Rabbku, ya, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” Lantas aku mandi dan keluar untuk solat subuh dan ingin segera bertaubat dan kembali kepada Allah SWT.

Beliau berkata:
Akupun masuk ke dalam masjid dan ternyata imam pun membaca ayat yang sama:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (Qs. Al-Hadid: 16)
.....

Itulah kisah taubatnya Malik bin Dinar yang mana beliau kemudian menjadi salah seorang imam generasi tabi'in, dan termasuk ulama Basrah. Beliau sering menangis sepanjang malam dan berkata: “Ya Ilahi, hanya Engkaulah satu-satunya Dzat Yang Mengetahui penghuni syurga dan penghuni neraka, maka yang manakah aku di antara keduanya? Ya Allah, jadikanlah aku termasuk penghuni syurga dan jangan jadikan aku termasuk penghuni neraka.”

Malik bin Dinar bertaubat dan pada setiap harinya beliau selalu berdiri di pintu masjid berseru: “Wahai para hamba yang membuat maksiat, kembalilah kepada Penolongmu! Wahai orang-orang yang lalai, kembalilah kepada Penolongmu! Wahai orang yang melarikan diri (dari ketaatan), kembalilah kepada Penolongmu! Penolongmu sentiasa menyeru memanggilmu pada malam dan siang hari. Dia berfirman kepadamu:

“Barangsiapa mendekatkan dirinya kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu hasta. Jika dia mendekatkan dirinya kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu depa. Siapa yang mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil.”

Aku memohon kepada Allah Subhanahu SWT agar memberikan rezeki taubat kepada kita. Tidak ada sembahan yang hak selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.

Malik bin Dinar wafat pada tahun 130 H. Semoga Allah SWT merahmatinya dengan rahmatNya yang luas. (Misanul I'tidal, III/426).

Ihsan : Blog Teh Secawan 

0 ulasan:

Post a Comment